Langsung ke konten utama

Peliharaan Khas Ipa Telu

Ada yang baru di ipa telu, mungkin hanya ada di ipa telu. Ikan lele.

Berawal dari westafel di kelas yang diperbaiki, teman-teman di ipa telu mempunyai ide untuk memberi ikan di westafel tersebut. Namun, ide itu baru bisa terlaksana sekarang.

4 ikan lele kesayangan



ada yang albino

para pengasuh lele
Semoga ikan lele, tetap hidup sampai kita lulus dan menjadikan ipa telu tambah kompak.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekspresi Galau dalam Bahasa Jepang

suatu ketika, saya ngetweet, sekalian menambah ekspresi2 dalam bahasa jepang, lalu ada follower yang mention, "tema hari ini galau ya?" hehehe, jadi saya membuat rangkuman tweet saya yang dikira galau tersebut, 1. aishitemo ii desu ka | bolehkah aku mencintaimu? 2.  anata no egao ga daisuki desu yo | aku sangat suka senyumanmu lo 3. konban, boku no yume ni anata o aitai desu | malam ini, aku ingin bertemu dg mu di dalam mimpiku

Kisah Dua Ekor Burung Merpati

Alkisah, di sebuah hutan terdapat 2 ekor burung merpati yang bersahabat. Burung merpati putih dan burung merpati berwarna cokelat. Mereka berdua adalah sahabat sejati. Keduanya saling menolong dan membantu jika ada salah satu di antara mereka yang membutuhkan. Tidak hanya kepada sahabatnya, mereka terkenal baik hati kepada seluruh penghuni hutan. Baik merpati putih maupun merpati cokelat adalah burung yang ramah dan jujur. Hanya saja merpati putih yang lebih cerdas daripada merpati cokelat. Merpati putih suka mencari tahu tentang segala hal.  Merpati putih selalu bersama merpati cokelat kemana pun mereka pergi, mulai dari mencari makan, belajar dan mengunjungi teman yang lain. Penghuni hutan yang lain sudah mengetahui persahabatan di antara keduanya, bahkan sang raja hutan, yaitu singa yang memberikan istilah sahabat sejati kepada keduanya. Pada suatu hari yang cerah, saat merpati putih dan merpati cokelat terbang bersama, mereka melihat kerumunan binatang di bawah mer...

Puisi Tiga Windu

Siang hari menjauh dari keriuhan, seorang pemuda mengadu kepada sepi. Bertanyalah dia, “Dimanakah rumah?” tiada jawab. Berkelana dalam imajinasi seraya bertanya pada khayalan tiap kali ditemui, “Dimanakah rumah?” tiada terjawab. Bertaruh untuk segudang makanan pokok di pinggir sungai dengan anak-anak berkulit cokelat, dilemparkannya undian itu, sambil bertanya, “Dimanakah rumah?” tiada juga balasan. Anak-anak itu malah tertawa dan berlalu pergi. Sebuah pasar ikan berpindah ke kepala pemuda itu. Bersamaan dengan berbagai jenis ikan yang pernah dan tak pernah kau lihat sebelumnya. Lalu, melalui perantara otak kecil, pemuda itu bertanya kepada para penghuni kepala, “Dimanakah rumah?” Seketika ikan-ikan yang biasanya berenang, malah terbang dengan sayap buatan di punggung mereka, pergi menjauh tanpa babibu. Pemuda itu berjalan berjingkat-jingkat, selayak penari balet yang baru berlatih. Tangan pemuda mengepal seakan ingin meninju barang apa pun yang ada di depannya. Mulutnya t...