Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label persahabatan

Volta bagian 1 : Credas telah Kembali

Rex Stone sudah menghitung kapan waktu yang tepat untuk menjemput Raptor G, sahabatnya. Raptor G adalah ilmuwan yang berambisi membuat mesin waktu hanya untuk melihat kehidupan dinosaurus secara langsung, lalu membekukan diri supaya bisa kembali ke masa kini. Selain karena perhitungan yang mendetail, Rex Stone semakin yakin bahwa sahabatnya itu telah berhasil menyelesaikan ambisinya setelah ada kabar angin bahwa seorang manusia purba ditemukan membeku di laut Maroon, seperti apa yang sudah direncanakan Raptor G. Rex Stone harus segera bergegas menuju Negara bagian Greatania tempat laut itu berada. Entah mengapa, ada hubungannya atau tidak, kebetulan atau tidak, namun Raptor G muncul di saat yang tepat ketika sebuah geng pemberontak bersenjata kembali bangkit. Geng yang berusaha menggulingkan negara pemerintahan pusat. Raptor G adalah yang pertama, pikir Rex Stone. Ia bermaksud mengumpulkan 6 sahabat yang lain. Dengan adanya Raptor G di sebelahnya, mereka dapat merencanakan rencana sel...

Cinta yang Membuatnya Yakin untuk Berjuang

Ponokawan Somen melihat seekor rajawali terbang di atas kepalanya. Burung itu berputar-putar seperti sedang menunggu apa yang akan terjadi setelah ini, ingin menyaksikan sebuah pertempuran antara ksatria dan ponokawan yang tak (pernah) sebanding, antara Somen dengan calon musuhnya, Prabu Burisrawa, putra Prabu Salya dari Kerajaan Mandaraka. Padang rumput di Negeri Antah Berantah ini akan menjadi saksi siapa yang terkuat di antara keduanya. Burung rajawali itu menukik tajam, perlahan pergi hingga tak lagi terlihat di kaki langit. Ponokawan asal Negeri Madayu itu tidak pernah menduga akan terlibat dalam pertarungan ini. Ia merasakan banyak keganjilan di dalam pikiran dan hatinya. Semestinya ia tak menerima tantangan Burisrawa secepat itu, namun ia tahu apa yang akan dilakukan, lagi pula tekadnya sudah bulat.

Harapan itu Berbentuk Kaleidoskop Air Mata

"Kenapa lagi kau, Men?" tanya Ponokawan Junet, sembari mendekat, lalu duduk di samping Somen yang sedang menatap danau belakang istana. "Haruskah seseorang semakin dewasa tentang cinta, setelah ia mengalami beberapa kali patah hati, Jun?" Pandangan Somen semakin kabur. Ia berusaha tegar namun ia tak sanggup menahan air mata yang seindah kaleidoskop itu di matanya. "Setiap orang berhak menjadi dewasa, Men. Semua orang juga berhak merasakan cinta," Junet yang sebelumnya memandangi muka Somen, setelah tahu mata temannya itu mulai berair, ia mengalihkan pandangannya ke arah danau. "Kau harus belajar dari masa lalu, bukankah kau pernah merasakan hal yang sama ketika mencintai Dewi Kencana Asri?"

Seorang Pria yang Memutuskan untuk Bermetamorfosis

Dryad –peri pohon-- suku Papilione, para Papilionis duduk melingkari Fura Tre, pohon pinus keramat di dalam hutan Skogur, di Negara Islandia. Mereka mengikuti ritual malam ini dengan khidmat, terutama Torir. Peri bertubuh pria itu telah mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya. Sekumpulan Eldur –api roh— tiba-tiba menyala di sekeliling para Papilionis, ketika seorang tetua mengumumkan, “Malam ini, salah satu anak kita akan melakukan myndbreyting. Ia memutuskan untuk menjadi dewasa. Semoga para roh mengawalnya.” Para Papilionis mengeluarkan kata-kata semacam Amiin untuk membalas doa tersebut. Ketika suara-suara lirih itu menghilang, tetua melanjutkan, “Torir putra Haukr, majulah. Ambillah sehelai daun dari Fura Tre.” Setelah titah itu keluar, dengan perasaan antara bangga dan gundah Torir melangkah ke depan. Ia harus mengambil sehelai daun berbentuk jarum yang gugur dari Fura Tre. Pengambilan daun menjadi sebuah simbolis dan awal proses myndbreyting –seperti metamorfosis--...

Kolaborasi : Kejutan untuk Syamsir

Cerpen kolaborasi bersama Wulan Zair* Akhir-akhir ini rupaku berubah, tanpa ekspresi. Ada rasa bahagia tersirat dari balik diam. Perasaan sedih tak ingin kalah, menggelayut di raut wajah yang datar. Malam berganti pagi, siang menjelma sore, hanya menunggu waktu untuk merayakan kelulusan. Separuh dari temanku akan pulang. Aku sibuk memikirkan cara terbaik bersenang-senang tanpa perlu merasakan getirnya perpisahan. Kuputar isi otak brilianku hingga kusut akar-akarnya. Ah, kenapa semua ini menjadi begitu runyam. Hingga sore yang terang itu akan menghitam, tak ku dapati sebuah ide. Hanya beberapa coretan di kertas di depanku. Mungkinkah harus menunggu semua teman pulang, pikirku, untuk mendapatkan cara yang tak terlupakan, yang akan terkenang? Entahlah.

Kebahagiaan yang Telah Berlalu dan Kebahagiaan yang Tertunda

Ponokawan Somen bukan main senangnya, hari ini ia dapat berfoto dengan Dewi Kencana Asri, wanita yang dulu sangat dicintai. Ia tak dapat berhenti tersenyum ketika mengingat momen membahagiakan tadi , apalagi ketika melihat pipi merah Sang Dewi. Junet beranjak dari kursi yang ada di depan rumah di Negeri Legi. Sambil menyelam minum air, Junet meraih jaket, helm dan kunci motor miliknya dan menyiapkan sebuah kotak berbungkus kertas kado. Ia berencana mendatangi rumah Somen untuk merayakan wisuda salah satu sahabatnya tersebut. Bagaimana Somen menceritakan itu kepada teman-temannya menandakan bahwa kali ini ia merasa sangat bahagia. Harapan mengenai kehadiran Junet dan ponokawan yang lain hilang seketika. Apalagi harapan bahwa salah satu partner Somen, Ais yang datang memberikan kejutan hanya angan kosong. Telah lama dilupakan setelah melihat wajah manis Dewi Kencana Asri.

Pembunuhan Setelah Wisuda

Ian bersedih melihat tubuh Sekar bersimbah darah. Ada bulatan kecil di dada samping bahu kanan yang tercipta gara-gara peluru yang ditembakkan kepadanya. Wanita itu telah menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Ian. Dilihatnya hadiah dan bunga yang tak sempat ia ucapkan terima kasih itu tergeletak. Pria berkacamata yang telah mengganti kostum wisudanya dengan pakaian khas Assassin bertekad akan mengejar pasukan Templar yang telah melakukan hal keji itu. Setelah membaringkan Sekar, mendoakan ketenangan untuk wanita itu, pikiran Assassin muda melambung pada kejadian beberapa menit yang lalu. Seharusnya ini adalah hari paling membahagiakan untuk Ian dan Sekar. Pagi sehabis Ian berganti pakaian wisuda dan memakai toga di kamar mandi kampus, ia bersama Soi berjalan ke arah Graha ITS. Semuanya tampak normal. Sebagai seorang Assassin tentu saja ia harus selalu waspada dengan segala kemungkinan. Ia menyelipkan sebuah bilah pisau tersembunyi di balik jubah panjangnya, yang dapat la...

Teruntuk Sang Mentor

Hari Rabu menjelang wisuda kakak kelas program studi Diploma 4, aku mengajak Ilham, Agung, Ian untuk memberikan kenang-kenangan kepada Mas Anugro, mentor lama kami. Kenang-kenangan berupa suatu barang yang dapat bermanfaat. Selain sebagai ucapan maaf dan terima kasih, hadiah yang akan kami berikan sebagai pengganti traktiran yang pernah Mas Anugro lakukan di awal mentoring dulu. Kelompok mentoringku (selain ketiga orang tersebut) juga ada Indro, Arnel dan Aziz, walaupun Aziz hanya mengikuti dua pertemuan. Kami melakukan mentoring tidak sesering kelompok yang lain. Apalagi di akhir-akhir ini, mungkin mulai awal semester 5, kami sudah tidak pernah melaksanakan kegiatan pembinaan tersebut. Ada saja alasan yang kami lontarkan, sebagai dalih untuk menutupi rasa malas kami. “Ayo kita ngasih sesuatu buat Mas Anugro! Ya minimal sebagai pengganti traktiran di Jannah dulu, gimana?” ajakku sore itu. “Oke, aku ikut aja, “ jawab Ian sekenanya, ia masih asyik bermain sebuah game PC. ...

Terima kasih amanah, karena telah mempertemukanku dengan dia

Waktu itu aku masih belum memaknai amanah sebagaimana yang kamu percaya, wahai wanita dengan seribu kesibukan. Terkadang aku malu dengan waktu yang telah banyak aku siakan, tentang kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh Tuhan kepada diri ini, juga tentang keistimewaan yang aku pegang. Namun terlalu banyak keegoisan yang membuat semua itu lenyap begitu saja. Satu tahun yang lalu aku mengenalmu, di sebuah kesempatan. Pertama aku bertemu, aku tak acuh, hanya saja, memang aku akui bahwa ada sedikit perasaan yang hinggap di hati. Aku tidak pernah membayangkan akan menjadikan rasa itu sungguhan, apalagi kita di antara orang-orang yang saling menundukkan pandangan.

Mukena Biru Tua : Pandangan Pertama

Pak Karta adalah guru bahasa inggris kelasku. Beliau adalah guru yang termasuk senior di SMA ku. Ada beberapa keriput di wajahnya dan warna rambut putih alias uban yang hampir memenuhi kepalanya. Dengan pengalaman yang sudah lebih dari 30 tahun itu, Pak Karta yang sekaligus dosen dari beberapa perguruan tinggi sering memberi tugas yang aneh dan tidak seperti guru yang lainnya. Kreatifitas dalam mengajar , begitulah yang aku pikirkan. Kali ini, Pak Karta memanggil satu persatu anak untuk maju menghadap beliau di meja guru. Pak Karta ingin menilai cara berbicara bahasa inggris kami. Sehingga kami bisa melakukan apapun jika tidak sedang maju ke depan. “Semuanya kalo bisa yang rajin kayak Ariyandi ya,” ujar Pak Karta di sela-sela menilai Sugi , temanku yang saat ini duduk di depan Pak Karta untuk unjuk gigi. Aku hanya bisa tersenyum malu ketika namaku disebut oleh Pak Karta . “Baik Pak!” jawab teman-temanku dengan kompak ditambahi dengan sedikit anggukan. Setelah mendapa...

Peduli itu Menyusahkan

" Aku takut kalau aku tak lagi peduli, " ucap Ponokawan Somen sembari berjalan menjauh. Ponokawan Junet hanya bisa tertegun mendengar perkataan sahabatnya tersebut. Junet hanya bisa menerka maksud dari ucapan Somen, tanpa punya niatan untuk bertanya kepada salah satu ponokawan terbaik di negerinya itu. Junet memahami bahwa permasalahan yang dihadapi Somen saat ini tidak hanya masalah fisik, namun juga psikis. Junet sering mendapati Somen kerap menirukan ucapan orang-orang terkenal yang berkaitan dengan filsafat kehidupan, khususnya mengenai kepedulian. Atau jika tak begitu, Somen sering merenung sendiri, sama seperti ketika Junet menerima ajakan Somen di suatu senja yang jingga. Ketika para fotografer berebutan untuk mengabadikan keindahan kaki-kaki langit. Somen waktu itu duduk termenung di pinggir danau Wanituwo di Negeri Sirumina. Di atas duduknya yang membeku, tatapan Somen kosong. Beberapa kali merubah posisi tangan dan kaki juga belum mampu menjawab ...