Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Gerakan Nasional Menutup Akun Facebook

"Kau tahu? Aku memikirkan sebuah ide," ucap Gurih kepada Mantap. Mantap masih sibuk dengan kegiatannya, menggulir layar ponsel pintarnya. Tak acuh. Seakan ia tak kaget ketika teman sejawatnya itu mengatakan sesuatu tentang "ide-idenya". "Aku ingin membuat Gerakan Nasional Menutup Akun Facebook," lanjut Gurih dengan mimik muka serius.

Kolaborasi: [Belum berjudul] Part 1

Cerpen kolaborasi dengan Rafika Nilasari. Suara tawa makin nyaring terdengar. Mataku perlahan-lahan terbuka, sekuat tenaga duduk di pinggiran ranjang dan melangkahkan kaki menuju arah suara. Meski langkah kaki gontai, kedua telingaku menangkap dengan baik asal suara gelak tawa itu; Dapur. Kulihat Ibu yang menggoreng ayam dengan sesekali mundur karena cipratan minyak dan Ayah, mencoba membantu Ibu memotong kentang. Keduanya tertawa, menertawakan Ayah yang tidak mengupas kentang dengan bersih dan potongan kentang asimetris. Aku melabuhkan tubuhku sendiri pada pintu kayu itu sembari tersenyum dan tidak sedikit-pun ingin mengganggu. Aku, dianggapnya angin lalu oleh keduanya. Semakin lama, semakin tenggelam tubuhku ke bawah. Terduduk lemah, sambil memeluk lututku sendiri. Menangis. Kembali ke dalam kamar, menghempaskan diri di atas kasur dan membenamkan kepala ke bantal agar isak tangisku tak terdengar. Semenit, dua menit, lima menit, sepuluh menit. Aku beranjak, berganti pakaian dan be...

Mukena Biru Tua : Jatuh Cinta Kedua

Kantin, adalah tempat-ku-jatuh-cinta kedua kepada Dina. Siang hari ketika siswa-siswa bersorak gembira karena mendapatkan kabar bahwa guru-guru akan mengadakan rapat, ketika Aku dan Ahmad dan Arrasyid bingung karena tak ada kegiatan di masjid Al Maghfiroh (di SMA ku), sehingga harus luntang-lantung mencari kesibukan, aku memutuskan untuk mengajak kedua sahabatku ini menuju kantin. Kantin yang berukuran sebesar setengah lapangan, yang kira-kira berisi 6 penjual makanan dengan tempat masing-masing berpanjang dua-setengah meter dan berlebar tiga meter, mendadak sepi. Mungkin siswa yang lain sudah berebut jalan menuju pulang mereka masing-masing.

Volta bagian 1 : Credas telah Kembali

Rex Stone sudah menghitung kapan waktu yang tepat untuk menjemput Raptor G, sahabatnya. Raptor G adalah ilmuwan yang berambisi membuat mesin waktu hanya untuk melihat kehidupan dinosaurus secara langsung, lalu membekukan diri supaya bisa kembali ke masa kini. Selain karena perhitungan yang mendetail, Rex Stone semakin yakin bahwa sahabatnya itu telah berhasil menyelesaikan ambisinya setelah ada kabar angin bahwa seorang manusia purba ditemukan membeku di laut Maroon, seperti apa yang sudah direncanakan Raptor G. Rex Stone harus segera bergegas menuju Negara bagian Greatania tempat laut itu berada. Entah mengapa, ada hubungannya atau tidak, kebetulan atau tidak, namun Raptor G muncul di saat yang tepat ketika sebuah geng pemberontak bersenjata kembali bangkit. Geng yang berusaha menggulingkan negara pemerintahan pusat. Raptor G adalah yang pertama, pikir Rex Stone. Ia bermaksud mengumpulkan 6 sahabat yang lain. Dengan adanya Raptor G di sebelahnya, mereka dapat merencanakan rencana sel...

Cinta yang Membuatnya Yakin untuk Berjuang

Ponokawan Somen melihat seekor rajawali terbang di atas kepalanya. Burung itu berputar-putar seperti sedang menunggu apa yang akan terjadi setelah ini, ingin menyaksikan sebuah pertempuran antara ksatria dan ponokawan yang tak (pernah) sebanding, antara Somen dengan calon musuhnya, Prabu Burisrawa, putra Prabu Salya dari Kerajaan Mandaraka. Padang rumput di Negeri Antah Berantah ini akan menjadi saksi siapa yang terkuat di antara keduanya. Burung rajawali itu menukik tajam, perlahan pergi hingga tak lagi terlihat di kaki langit. Ponokawan asal Negeri Madayu itu tidak pernah menduga akan terlibat dalam pertarungan ini. Ia merasakan banyak keganjilan di dalam pikiran dan hatinya. Semestinya ia tak menerima tantangan Burisrawa secepat itu, namun ia tahu apa yang akan dilakukan, lagi pula tekadnya sudah bulat.

Harapan itu Berbentuk Kaleidoskop Air Mata

"Kenapa lagi kau, Men?" tanya Ponokawan Junet, sembari mendekat, lalu duduk di samping Somen yang sedang menatap danau belakang istana. "Haruskah seseorang semakin dewasa tentang cinta, setelah ia mengalami beberapa kali patah hati, Jun?" Pandangan Somen semakin kabur. Ia berusaha tegar namun ia tak sanggup menahan air mata yang seindah kaleidoskop itu di matanya. "Setiap orang berhak menjadi dewasa, Men. Semua orang juga berhak merasakan cinta," Junet yang sebelumnya memandangi muka Somen, setelah tahu mata temannya itu mulai berair, ia mengalihkan pandangannya ke arah danau. "Kau harus belajar dari masa lalu, bukankah kau pernah merasakan hal yang sama ketika mencintai Dewi Kencana Asri?"

Seorang Pria yang Memutuskan untuk Bermetamorfosis

Dryad –peri pohon-- suku Papilione, para Papilionis duduk melingkari Fura Tre, pohon pinus keramat di dalam hutan Skogur, di Negara Islandia. Mereka mengikuti ritual malam ini dengan khidmat, terutama Torir. Peri bertubuh pria itu telah mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya. Sekumpulan Eldur –api roh— tiba-tiba menyala di sekeliling para Papilionis, ketika seorang tetua mengumumkan, “Malam ini, salah satu anak kita akan melakukan myndbreyting. Ia memutuskan untuk menjadi dewasa. Semoga para roh mengawalnya.” Para Papilionis mengeluarkan kata-kata semacam Amiin untuk membalas doa tersebut. Ketika suara-suara lirih itu menghilang, tetua melanjutkan, “Torir putra Haukr, majulah. Ambillah sehelai daun dari Fura Tre.” Setelah titah itu keluar, dengan perasaan antara bangga dan gundah Torir melangkah ke depan. Ia harus mengambil sehelai daun berbentuk jarum yang gugur dari Fura Tre. Pengambilan daun menjadi sebuah simbolis dan awal proses myndbreyting –seperti metamorfosis--...

Kolaborasi : Kejutan untuk Syamsir

Cerpen kolaborasi bersama Wulan Zair* Akhir-akhir ini rupaku berubah, tanpa ekspresi. Ada rasa bahagia tersirat dari balik diam. Perasaan sedih tak ingin kalah, menggelayut di raut wajah yang datar. Malam berganti pagi, siang menjelma sore, hanya menunggu waktu untuk merayakan kelulusan. Separuh dari temanku akan pulang. Aku sibuk memikirkan cara terbaik bersenang-senang tanpa perlu merasakan getirnya perpisahan. Kuputar isi otak brilianku hingga kusut akar-akarnya. Ah, kenapa semua ini menjadi begitu runyam. Hingga sore yang terang itu akan menghitam, tak ku dapati sebuah ide. Hanya beberapa coretan di kertas di depanku. Mungkinkah harus menunggu semua teman pulang, pikirku, untuk mendapatkan cara yang tak terlupakan, yang akan terkenang? Entahlah.

Kebahagiaan yang Telah Berlalu dan Kebahagiaan yang Tertunda

Ponokawan Somen bukan main senangnya, hari ini ia dapat berfoto dengan Dewi Kencana Asri, wanita yang dulu sangat dicintai. Ia tak dapat berhenti tersenyum ketika mengingat momen membahagiakan tadi , apalagi ketika melihat pipi merah Sang Dewi. Junet beranjak dari kursi yang ada di depan rumah di Negeri Legi. Sambil menyelam minum air, Junet meraih jaket, helm dan kunci motor miliknya dan menyiapkan sebuah kotak berbungkus kertas kado. Ia berencana mendatangi rumah Somen untuk merayakan wisuda salah satu sahabatnya tersebut. Bagaimana Somen menceritakan itu kepada teman-temannya menandakan bahwa kali ini ia merasa sangat bahagia. Harapan mengenai kehadiran Junet dan ponokawan yang lain hilang seketika. Apalagi harapan bahwa salah satu partner Somen, Ais yang datang memberikan kejutan hanya angan kosong. Telah lama dilupakan setelah melihat wajah manis Dewi Kencana Asri.

Pembakaran Hak Asasi dan Nurani

Di siang yang terik itu, Ponokawan Junet berlari ke rumah Somen, dengan tergesa-gesa, hingga mulut ndoweh nya bergetar tak keruan. Ponokawan yang memiliki Aji Jambulseok itu ingin menyampaikan suatu kabar berita kepada sahabatnya tersebut. Kabar yang menurut Junet adalah kabar yang akan membuat Somen tertarik untuk dibahasnya bersama. Junet tahu kalau sahabatnya itu suka membahas hal-hal macam apa yang ingin disampaikannya. Dengan nafas yang tersengal, Junet akhirnya sampai di depan rumah Somen, di Negeri Madayu. Tanpa menunggu kaki-kakinya berhenti bergetar, Junet memanggil nama Ponokawan yang sempat menggegerkan Negeri Kahyangan karena cintanya kepada Dewi Kencana Asri. 3 kali panggilan, Somen pun menjawab. Beruntung bagi Junet karena ponokawan Somen berada di rumah, ia sedang tidak bertugas di keraton Raja Arha. Seketika itu Somen bertanya, ada apa koq grusa grusu kepada Junet. Junet mengatur nafas supaya ucapannya dapat enak didengar Somen.

Pembunuhan Setelah Wisuda

Ian bersedih melihat tubuh Sekar bersimbah darah. Ada bulatan kecil di dada samping bahu kanan yang tercipta gara-gara peluru yang ditembakkan kepadanya. Wanita itu telah menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Ian. Dilihatnya hadiah dan bunga yang tak sempat ia ucapkan terima kasih itu tergeletak. Pria berkacamata yang telah mengganti kostum wisudanya dengan pakaian khas Assassin bertekad akan mengejar pasukan Templar yang telah melakukan hal keji itu. Setelah membaringkan Sekar, mendoakan ketenangan untuk wanita itu, pikiran Assassin muda melambung pada kejadian beberapa menit yang lalu. Seharusnya ini adalah hari paling membahagiakan untuk Ian dan Sekar. Pagi sehabis Ian berganti pakaian wisuda dan memakai toga di kamar mandi kampus, ia bersama Soi berjalan ke arah Graha ITS. Semuanya tampak normal. Sebagai seorang Assassin tentu saja ia harus selalu waspada dengan segala kemungkinan. Ia menyelipkan sebuah bilah pisau tersembunyi di balik jubah panjangnya, yang dapat la...

Cintaku Bersemi Sewaktu Flooring bag. 2 : Sebuah Pencarian (Pria Misterius itu Mahasiswa Abi)

“Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.” “Maafin Mbak kalo ada salah selama mentoring pagi ini, semoga hari kalian menyenangkan. Wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Mbak Dila menutup mentoring lanjutan pagi ini. Mbak Dila menyalami kami satu per satu dan cipika-cipiki.  Musala D4 memang kecil, hanya berukuran 3 kali 5 meter. Namun jika sering diadakan mentoring di sini, maka manfaatnya akan bertambah. Walaupun mentoring lanjutan telah selesai, aku, Mbak Dila dan teman kelompok mentoring yang lain tidak langsung meninggalkan musala, kami menuju tempat wudu. Kami ingin menunaikan shalat dhuha. Masih terdapat 15 menit sebelum kuliah pertama pukul 08.00 dimulai.

Cintaku Bersemi Sewaktu Flooring bag. 1 : Flooring Pertama

“Baiklah, apakah ada pertanyaan atau tanggapan?” ujar Riko, Penanggung Jawab Suksesi Himpunan tahun ini, namun kali ini dia bertindak sebagai seorang moderator. Perawakannya yang gagah dan duduknya yang tegak membuatnya terlihat cocok untuk memimpin jalannya flooring . Malam ini adalah flooring pertama kami sebagai Komisi Pemilihan Umum atau KPU.  Tentu saja pengalaman pertama ini membuatku sedikit tegang. Flooring itu asyik koq, kalimat itu terus berputar di dalam kepalaku. Kalimat yang sering diucapkan oleh Mas Ar, kakak kelas dari himpunan yang senantiasa menemani kami dalam mengonsep draf petunjuk pelaksanaan suksesi himpunan. Ya mungkin saja akan mengasyikkan   sehingga aku dapat tertawa dengan riangnya, pikirku.

Kampusku Angker

Aku berjalan melewati koridor besar yang menghubungkan gedung lama dan gedung baru kampusku. Kampusku adalah kampus tua. Kata orang kampusku angker. Banyak yang telah membuktikannya. Salah satu penjaga kampus, Pak Joko pernah berkata bahwa di koridor ini sering terdengar tangisan wanita. Tidak main-main, setiap Kamis malam di atas pukul 12, suara itu kerap muncul. Mengganggu siapa saja yang lewat. Dan kini aku berada di sini. Kulihat jam tanganku. Waktu menunjuk 11.30 malam. Untung saja hari ini Hari Selasa. Walaupun begitu, aku tetap merasa takut. Panjang koridor yang tidak seberapa seharusnya membuatku dapat mencapai gedung baru dengan cepat. Namun, suasana malam ini terasa lambat. Tidak ada angin yang berhembus. Semak-semak dan dedaunan dari pohon yang ditanam di taman kanan kiriku tak bergerak. Membisu, seperti sedang membiarkanku berlalu melewati koridor yang sepi.

Teruntuk Sang Mentor

Hari Rabu menjelang wisuda kakak kelas program studi Diploma 4, aku mengajak Ilham, Agung, Ian untuk memberikan kenang-kenangan kepada Mas Anugro, mentor lama kami. Kenang-kenangan berupa suatu barang yang dapat bermanfaat. Selain sebagai ucapan maaf dan terima kasih, hadiah yang akan kami berikan sebagai pengganti traktiran yang pernah Mas Anugro lakukan di awal mentoring dulu. Kelompok mentoringku (selain ketiga orang tersebut) juga ada Indro, Arnel dan Aziz, walaupun Aziz hanya mengikuti dua pertemuan. Kami melakukan mentoring tidak sesering kelompok yang lain. Apalagi di akhir-akhir ini, mungkin mulai awal semester 5, kami sudah tidak pernah melaksanakan kegiatan pembinaan tersebut. Ada saja alasan yang kami lontarkan, sebagai dalih untuk menutupi rasa malas kami. “Ayo kita ngasih sesuatu buat Mas Anugro! Ya minimal sebagai pengganti traktiran di Jannah dulu, gimana?” ajakku sore itu. “Oke, aku ikut aja, “ jawab Ian sekenanya, ia masih asyik bermain sebuah game PC. ...

Mukena Biru Tua : Pandangan Pertama

Pak Karta adalah guru bahasa inggris kelasku. Beliau adalah guru yang termasuk senior di SMA ku. Ada beberapa keriput di wajahnya dan warna rambut putih alias uban yang hampir memenuhi kepalanya. Dengan pengalaman yang sudah lebih dari 30 tahun itu, Pak Karta yang sekaligus dosen dari beberapa perguruan tinggi sering memberi tugas yang aneh dan tidak seperti guru yang lainnya. Kreatifitas dalam mengajar , begitulah yang aku pikirkan. Kali ini, Pak Karta memanggil satu persatu anak untuk maju menghadap beliau di meja guru. Pak Karta ingin menilai cara berbicara bahasa inggris kami. Sehingga kami bisa melakukan apapun jika tidak sedang maju ke depan. “Semuanya kalo bisa yang rajin kayak Ariyandi ya,” ujar Pak Karta di sela-sela menilai Sugi , temanku yang saat ini duduk di depan Pak Karta untuk unjuk gigi. Aku hanya bisa tersenyum malu ketika namaku disebut oleh Pak Karta . “Baik Pak!” jawab teman-temanku dengan kompak ditambahi dengan sedikit anggukan. Setelah mendapa...

Juara Bersama BNI

Sekitar 3 tahun yang lalu, yaitu ketika saya berada di kelas 12 SMA. Saya mendapatkan 2 pengalaman berharga sekaligus. Ialah mendapatkan juara 1 di sebuah kompetisi dan berkesempatan memiliki tabungan di bank. Waktu itu saya bersama teman-teman saya mengikuti Try Out Ujian Nasional berhadiah uang yang dilaksanakan di Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Surabaya atau yang sekarang menjadi Politeknik Pelayaran Surabaya di daerah Gunung Anyar Boulevard. Memang waktu itu saya hanya berkeinginan untuk menguji kesiapan sebelum menghadapi Ujian Nasional, sehingga tidak terlalu memikirkan hadiah, apalagi mendapatkan juara 1. Tidak terlintas sedikit pun pikiran mengenai kemenangan. Berbekal 2 buah pensil dan penghapus dan Bismillah, saya mengerjakan soal-soal yang diberikan dengan sebaik-baik yang saya bisa. Tidak ada persiapan khusus yang saya lakukan malam harinya, hanya saja karena saat itu saya adalah Ketua kelas, saya harus memberikan informasi terkait Try Out ini...

Kisah Dua Ekor Burung Merpati

Alkisah, di sebuah hutan terdapat 2 ekor burung merpati yang bersahabat. Burung merpati putih dan burung merpati berwarna cokelat. Mereka berdua adalah sahabat sejati. Keduanya saling menolong dan membantu jika ada salah satu di antara mereka yang membutuhkan. Tidak hanya kepada sahabatnya, mereka terkenal baik hati kepada seluruh penghuni hutan. Baik merpati putih maupun merpati cokelat adalah burung yang ramah dan jujur. Hanya saja merpati putih yang lebih cerdas daripada merpati cokelat. Merpati putih suka mencari tahu tentang segala hal.  Merpati putih selalu bersama merpati cokelat kemana pun mereka pergi, mulai dari mencari makan, belajar dan mengunjungi teman yang lain. Penghuni hutan yang lain sudah mengetahui persahabatan di antara keduanya, bahkan sang raja hutan, yaitu singa yang memberikan istilah sahabat sejati kepada keduanya. Pada suatu hari yang cerah, saat merpati putih dan merpati cokelat terbang bersama, mereka melihat kerumunan binatang di bawah mer...

Surabaya 2057 : Sendiri Tanpamu

Kau terbangun dari tidur panjang yang lelahkanmu, Sesali wajahmu merenta kisahmu terlupa, Kau sadari semua yang berjalan tlah tinggalkanmu , Dan tak dapat merangkai semua dekat di khayalmu... Kau dibangunkan oleh sinar matahari yang merayap masuk ke kamarmu melewati lubang-lubang jendela. Kau sengaja membuat lubang-lubang yang berukuran tak terlalu besar itu supaya kau masih bisa merasakan hangatnya cahaya di pagi hari. Walaupun seharusnya kau tahu kau harus menutup rapat-rapat jendela itu, supaya dapat lebih aman dari gangguan serangga-serangga malam ketika kau terlelap tidur. Kau masih bisa merasakan kengerian ketika menjumpai seekor kecoa berukuran satu kepalan tangan di suatu malam. Tapi sekarang sudah pagi, kau merasakan senyummu mengembang karena bersyukur masih bisa bernafas. Matahari masih mau menampakkan wajahnya pagi ini, mungkin tidak terlalu pagi , pikirmu. Kau bertanya jam berapa sekarang, dan kau memutuskan untuk mendongak melihat jam yang bertengger di dinding. P...