Aku berjalan melewati koridor besar yang menghubungkan gedung lama dan gedung baru kampusku. Kampusku adalah kampus tua. Kata orang kampusku angker. Banyak yang telah membuktikannya. Salah satu penjaga kampus, Pak Joko pernah berkata bahwa di koridor ini sering terdengar tangisan wanita. Tidak main-main, setiap Kamis malam di atas pukul 12, suara itu kerap muncul. Mengganggu siapa saja yang lewat. Dan kini aku berada di sini. Kulihat jam tanganku. Waktu menunjuk 11.30 malam. Untung saja hari ini Hari Selasa. Walaupun begitu, aku tetap merasa takut. Panjang koridor yang tidak seberapa seharusnya membuatku dapat mencapai gedung baru dengan cepat. Namun, suasana malam ini terasa lambat. Tidak ada angin yang berhembus. Semak-semak dan dedaunan dari pohon yang ditanam di taman kanan kiriku tak bergerak. Membisu, seperti sedang membiarkanku berlalu melewati koridor yang sepi.
faktivis, anti kredo, pencari persamaan di tengah perbedaan, udah hobi nggambar sejak kecil, dan baru saja suka nulis