Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label wayang

Cinta yang Membuatnya Yakin untuk Berjuang

Ponokawan Somen melihat seekor rajawali terbang di atas kepalanya. Burung itu berputar-putar seperti sedang menunggu apa yang akan terjadi setelah ini, ingin menyaksikan sebuah pertempuran antara ksatria dan ponokawan yang tak (pernah) sebanding, antara Somen dengan calon musuhnya, Prabu Burisrawa, putra Prabu Salya dari Kerajaan Mandaraka. Padang rumput di Negeri Antah Berantah ini akan menjadi saksi siapa yang terkuat di antara keduanya. Burung rajawali itu menukik tajam, perlahan pergi hingga tak lagi terlihat di kaki langit. Ponokawan asal Negeri Madayu itu tidak pernah menduga akan terlibat dalam pertarungan ini. Ia merasakan banyak keganjilan di dalam pikiran dan hatinya. Semestinya ia tak menerima tantangan Burisrawa secepat itu, namun ia tahu apa yang akan dilakukan, lagi pula tekadnya sudah bulat.

Harapan itu Berbentuk Kaleidoskop Air Mata

"Kenapa lagi kau, Men?" tanya Ponokawan Junet, sembari mendekat, lalu duduk di samping Somen yang sedang menatap danau belakang istana. "Haruskah seseorang semakin dewasa tentang cinta, setelah ia mengalami beberapa kali patah hati, Jun?" Pandangan Somen semakin kabur. Ia berusaha tegar namun ia tak sanggup menahan air mata yang seindah kaleidoskop itu di matanya. "Setiap orang berhak menjadi dewasa, Men. Semua orang juga berhak merasakan cinta," Junet yang sebelumnya memandangi muka Somen, setelah tahu mata temannya itu mulai berair, ia mengalihkan pandangannya ke arah danau. "Kau harus belajar dari masa lalu, bukankah kau pernah merasakan hal yang sama ketika mencintai Dewi Kencana Asri?"

Kebahagiaan yang Telah Berlalu dan Kebahagiaan yang Tertunda

Ponokawan Somen bukan main senangnya, hari ini ia dapat berfoto dengan Dewi Kencana Asri, wanita yang dulu sangat dicintai. Ia tak dapat berhenti tersenyum ketika mengingat momen membahagiakan tadi , apalagi ketika melihat pipi merah Sang Dewi. Junet beranjak dari kursi yang ada di depan rumah di Negeri Legi. Sambil menyelam minum air, Junet meraih jaket, helm dan kunci motor miliknya dan menyiapkan sebuah kotak berbungkus kertas kado. Ia berencana mendatangi rumah Somen untuk merayakan wisuda salah satu sahabatnya tersebut. Bagaimana Somen menceritakan itu kepada teman-temannya menandakan bahwa kali ini ia merasa sangat bahagia. Harapan mengenai kehadiran Junet dan ponokawan yang lain hilang seketika. Apalagi harapan bahwa salah satu partner Somen, Ais yang datang memberikan kejutan hanya angan kosong. Telah lama dilupakan setelah melihat wajah manis Dewi Kencana Asri.

Pembakaran Hak Asasi dan Nurani

Di siang yang terik itu, Ponokawan Junet berlari ke rumah Somen, dengan tergesa-gesa, hingga mulut ndoweh nya bergetar tak keruan. Ponokawan yang memiliki Aji Jambulseok itu ingin menyampaikan suatu kabar berita kepada sahabatnya tersebut. Kabar yang menurut Junet adalah kabar yang akan membuat Somen tertarik untuk dibahasnya bersama. Junet tahu kalau sahabatnya itu suka membahas hal-hal macam apa yang ingin disampaikannya. Dengan nafas yang tersengal, Junet akhirnya sampai di depan rumah Somen, di Negeri Madayu. Tanpa menunggu kaki-kakinya berhenti bergetar, Junet memanggil nama Ponokawan yang sempat menggegerkan Negeri Kahyangan karena cintanya kepada Dewi Kencana Asri. 3 kali panggilan, Somen pun menjawab. Beruntung bagi Junet karena ponokawan Somen berada di rumah, ia sedang tidak bertugas di keraton Raja Arha. Seketika itu Somen bertanya, ada apa koq grusa grusu kepada Junet. Junet mengatur nafas supaya ucapannya dapat enak didengar Somen.

Peduli itu Menyusahkan

" Aku takut kalau aku tak lagi peduli, " ucap Ponokawan Somen sembari berjalan menjauh. Ponokawan Junet hanya bisa tertegun mendengar perkataan sahabatnya tersebut. Junet hanya bisa menerka maksud dari ucapan Somen, tanpa punya niatan untuk bertanya kepada salah satu ponokawan terbaik di negerinya itu. Junet memahami bahwa permasalahan yang dihadapi Somen saat ini tidak hanya masalah fisik, namun juga psikis. Junet sering mendapati Somen kerap menirukan ucapan orang-orang terkenal yang berkaitan dengan filsafat kehidupan, khususnya mengenai kepedulian. Atau jika tak begitu, Somen sering merenung sendiri, sama seperti ketika Junet menerima ajakan Somen di suatu senja yang jingga. Ketika para fotografer berebutan untuk mengabadikan keindahan kaki-kaki langit. Somen waktu itu duduk termenung di pinggir danau Wanituwo di Negeri Sirumina. Di atas duduknya yang membeku, tatapan Somen kosong. Beberapa kali merubah posisi tangan dan kaki juga belum mampu menjawab ...

Keluarnya Hanoman dari Buku

Senja ketika rasa bersalah itu muncul, Ponokawan Somen bersama Junet memutuskan untuk pergi ke toko buku. Somen masih merasa tidak enak dengan apa yang terjadi di grup Whatsapp sejak kemarin. Langit masih menggulung awan putih dan menggelar mega-mega, angin semilir menabrakkan diri pada pipi Somen dan Junet yang berboncengan motor, namun Somen belum tentu memaafkan salah satu ponokawan yang memperuh keadaan. Toko buku adalah pilihan yang tepat untuknya melupakan itu semua. " Kate nggolek buku opo toh Men? ", tanya Junet kepada Somen yang waktu itu melamun manja. " Emboh Jun, pokoke nang toko buku, be'e onok buku seng apik. " jawab Somen sekenanya.

antara Somen dan Junet, terdapat Karna

''Setiap orang pasti punya sisi negatif dan sisi positif, hanya tergantung mana yang lebih dominan.'' ujar Somen kepada Junet. ''Sotoy Lu!'' kata Junet menanggapi pernyataan Somen, sambil bibirnya yang memble bergetar. ''Hle, ogak percoyo.'' Somen bersikeras. ''Apa buktinya?'' tanya Junet sambil ngelus-ngelus rambutnya yang jambul. Di waktu maghrib yang agak dingin itu, Somen bertamu di rumah Junet. Dengan sedikit-sedikit ngemil brownis yang disediakan, Somen menceritakan mengenai Adipati Karna, salah satu tangan kanan Duryudana. ''Adipati Karna, lahir dari hubungan yang tidak diinginkan, antara Dewi Kunti alias Prita dengan Batara Surya. Pun, Karna kecil keluar dari telinga Dewi Kunti.'' Junet: wes wes, malah cerito cilikanne, to the point, langsung nang pembahasan seng mau. ''Hlo, aku mau mbahas opo Jun?'' tanya Somen, ''Nggh, mbahas Peterpan, yo gak lah, mbahas sisi negati...

Inilah Cinta yang Sesungguhnya

Malam itu, di Negeri Mulyo, Dewi Vetha mendapati Ponokawan Takmir duduk sendiri, tertunduk lesu di depan pendopo kerajaan. Dewi mendekati Takmir perlahan, ''Ada apakah gerangan yg membuatmu tak seperti biasanya begini?'' sapa Dewi, dalam hatinya ia turut sedih.  Lalu Sang Dewi tersenyum. Pipinya merah merekah dihiasi cahaya rembulan malam. Takmir menoleh dan langsung berdiri, ia lalu mengusap mata. ''Tidak apa-apa, Dewi, tidak apa-apa.'' jawab Takmir, terpatah-patah. ''Kau ada masalah, aku lihat kau begitu sedih, tak seperti biasa.'' Takmir menggelengkan kepala, lalu Dewi Vetha menyingkap selendangnya, dan berkata, ''Jika kau tak mau cerita, jangan lagi menjagaku!''

Pohon Rindang yang Menyejukkan

"Andai setiap daun yang jatuh di musim gugur adalah wujud kasihmu kepadaku, mungkin aku kan menjadi orang yang paling bersyukur di muka bumi, Karena sebanyak itulah, aku mencintaimu.'' Tulisan ini yang dibuat ponokawan Somen pada sebuah pohon depan rumahnya. Pada teriknya panas hari ini, Somen memutuskan untuk berteduh, bersandar di bawah pohon rindang, ia teringat salah satu puisinya. ''Aku menaruh hati pada sebuah pohon yang rindang, yang mengijinkan aku untuk bersandar, atau sekedar berteduh menghilangkan lelah.'' Saat itu, inspirasi Somen untuk menulis puisi adalah Dewi Kencana Asri, ia bagaikan pohon rindang yang menyejukkan, diri maupun hati.

Dilema Cinta Ponokawan Rosed

Ngomongin cinta para ponokawan, Somen sudah, Junet sudah, Takmir sudah, sekarang tinggal cinta ponokawan Rosed yang belum dibahas. Rosed, walaupun dia ponokawan dari Negeri Semo, mukanya tidak kalah dengan para kesatria, semacam Arjuna atau Nakula-Sadewa. Di antara para ponokawan, Rosed lah yang memiliki kulit putih, dengan jenggot, dan sering digandrungi para wanita, dari dewi hingga raksesi. Dari sekian wanita yg mendekat, hanya ada dua wanita yg sanggup meluluhkan hati Rosed hingga sekarang, ''Sopo reek?'' ucap Junet, ''Melok ae'' Rosed sewot. Sikap kalem dan santun Rosed, membuat wanita sekelas Dewi Avas dari Negeri Tamus dan Dewi Rantri dari Negeri Dangan klepek-klepek, jatuh hati. Pernah kedua Dewi tersebut mengungkapkan cinta mereka kepada Rosed, namun karena dia sudah terlanjur menjadi ponokawan apa boleh buat.

Ponokawan Takmir dan Dewi Vetha

Salah satu sahabat ponokawan Somen, Takmir adalah seorang penasehat kerajaan alias perewang dari Negeri Mulyo, dengan Raja Arha. Sebelum tinggal di Negeri Mulyo, Takmir bertugas di Negeri Ngelampis tak jauh dari negeri tersebut. Ia pindah karena pernikahan sang Ratu. Sama seperti saat bertugas di Negeri Ngelampis, di Negeri Mulyo pun Takmir bertugas menjaga, melayani, dan menasehati salah satu putri kerajaan. Seharusnya tugas tersebut dilakukan oleh para ponokawan wanita, seperti Cangik atau Limbuk, namun pekerjaan itu juga cocok dikerjakan oleh Takmir. Karena ia adalah seorang ponokawan yang mengerti masalah wanita dan mampu menghibur dimanapun dan kapanpun, terutama bagi para putri kerajaan.

Mengenang Sahabat Terkasih, Roy

Malam ini, tepat 3 tahun meninggalnya sahabat ponokawan Somen, Roy Aditya di usia muda. Dengan memutar lagu Chrisye - Lirih, Somen mengenang masa-masa dulu bersama Roy, orang yg menginspirasi Somen utk semangat belajar matematika. Terang saja, kelas 7 SMP, ponokawan Somen sangatlah lemah dalam pelajaran tersebut, ''Aargh stress!'' itulah yang sering diucapkan Somen. Semenjak menjadi sahabat, tepatnya mulai kelas 8, mereka duduk satu bangku, Roy sering mengajari Somen tentang banyak hal, khususnya matematika. Somen hanya bisa mengembalikan masa-masa itu dalam khayalan sambil sedikit-sedikit menyanyikan lirik lagu Lirih.

Bayang-Bayang Mantan Junet

Selalu begitu, dalam keheningan dan perenungan, bayang-bayang mantan masih menyelimuti hari-hari ponokawan Junet, sahabat Somen dari Negeri Legi. Setiap ia mengingat mantan kekasihnya, ia sedih, terlintas kenangan-kenangan indah mereka berdua, waktu di sebuah telaga Rindu contohnya. Dapat kita bayangkanlah bagaimana Junet ketika termenung, sedih dan galau, dengan mulut memblenya dan Aji Jambulseok yang gak nguati.

Serangan Raksasa Kamageni Utusan Alasayu

''Jodoh itu gak kemana, Men.'' kata Junet, ''Ya dilihat aja lah, nanti Sang Dewi kuliah dimana, nanti kan ketauan jodohnya.'' jawab Somen. ''Iyo, Men, masa depan masih jauh, Batara Kala belum memberikan titah kepada waktu, masih banyak Dewi dari berbagai negeri di Jawa ini.'' Setelah Takmir, Rosed juga memberi pesan, ''Kalo memang engkau masih mengharapkan Dewi Kencana Asri memohonlah pada Sang Hyang.'' Di tengah-tengah keseruan pembahasan keempat ponokawan mengenai 'jodoh', tiba-tiba datanglah Seorang Raksasa, Kamaageni, kama itu sperma, geni itu api. Kamageni mengaku bahwa ia adalah utusan dari Negeri Alasayu, tempat Prabu Jikaraya, orang yang akan menikahi Dewi Kencana Asri. Ternyata kabar mengenai ponokawan Somen yang berasal dari Negeri Madayu, bahwa ia mencintai calon permaisuri Sang Prabu tlah sampai di Alasayu.

Kegalauan Hati Ponokawan Somen

Ponokawan Somen nampak sibuk dengan pensil yang ada di tangan kanannya, ia mencoba melukis seorang wanita yang dikasihi. Jelas saja, Somen mengalami kegalauan yang menjadi-jadi, karena seorang abdi dalem sepertinya tlah jatuh cinta kepada seorang putri mahkota. Namun putri mahkota tersebut tlah dicalonkan dengan salah satu pangeran dari Negeri Alasayu, tetangga Negeri Madayu tempat Somen tinggal.

Sowan ke Rumah Rosed

Sore itu, ponokawan Somen, Takmir, Junet sowan ke rumah ponokawan Rosed, mereka bertiga sehabis daftar UMPN di salah satu kampus Surabaya. Bincang-bincang terasa nikmat karena diselingi kibasan Aji Jenggot Indah ponokawan Rosed, sayang Aji Jambulseok ponokawan Junet tlah gugur. Aji Jambulseok, yang rumornya bisa bikin wanita klepek-klepek itu, tlah dibakar habis oleh api yang dikibas dari ekor Hanoman. Sial saja ponokawan Junet pernah berkunjung ke taman di pusat Negeri Alengka, ketika Hanoman memporak poranda negeri tersebut. Ekor Hanoman dibakar oleh panah salah satu prajurit Rahwana, dan Hanoman berhasil memanfaatkannya untuk melawan Rahwana alias Dasamuka.

Ponokawan Belajar Bahasa Jepang

Sepertinya Petruk penasaran dengan tulisan njelimet yang ada di brosur yang baru didapatnya. ''opo kuwi, Truk?'' samber Gareng, hladalah Bagong nyauti, ''iku boso jepang, ckckck...nihongo desu yo.'' Petruk dan Gareng mlongo, seperti ketika melihat Dropadi ditelanjangi di depan para Korawa dan Pandawa saat bermain dadu, seakan tak percaya. ''Sini sini, ta'uruki..'' Bagong rada sombong, ''ini bahasa jepang, tulisannya kayak pallawa atau aksara jawa..'' Petruk mantuk-mantuk. Petruk dan Gareng menyimak pelajaran yang diajarkan oleh Bagong, tiba-tiba sang Rama, Semar lewat, ''heuheuheu, good good.''