Langsung ke konten utama

Inilah Cinta yang Sesungguhnya

Malam itu, di Negeri Mulyo, Dewi Vetha mendapati Ponokawan Takmir duduk sendiri, tertunduk lesu di depan pendopo kerajaan. Dewi mendekati Takmir perlahan, ''Ada apakah gerangan yg membuatmu tak seperti biasanya begini?'' sapa Dewi, dalam hatinya ia turut sedih.  Lalu Sang Dewi tersenyum. Pipinya merah merekah dihiasi cahaya rembulan malam. Takmir menoleh dan langsung berdiri, ia lalu mengusap mata. ''Tidak apa-apa, Dewi, tidak apa-apa.'' jawab Takmir, terpatah-patah. ''Kau ada masalah, aku lihat kau begitu sedih, tak seperti biasa.'' Takmir menggelengkan kepala, lalu Dewi Vetha menyingkap selendangnya, dan berkata, ''Jika kau tak mau cerita, jangan lagi menjagaku!''

Ponokawan Takmir menatap kedua mata Dewi, lalu tertunduklah ia, lututnya jatuh menyentuh bumi, tangannya mengepal, ia menangis terisak. Dewi Vetha merendahkan tubuhnya, pakaiannya terurai ''Sudahlah, jangan larut dalam kesedihan.'' kata Dewi sambil menepuk pundak Takmir.

Tiba-tiba, Takmir berdiri dan segera berlari, menjauhi Sang Dewi, air matanya mengalir menjatuhi bumi Negeri Mulyo yang terkenal asri tersebut. Tanpa kata, Dewi Vetha hanya melihat Takmir yang pergi menjauhi istana, ia tak mau mengejar, nampaknya ia tahu betapa sedih pengawalnya tersebut. Langsung saja air mata Dewi tumpah, tak kuasa menahan sedih yg menjadi-jadi, melihat Takmir tak seperti biasa dan dirundung lara. Setelah menatap bulan, ia terpikir sesuatu. Ketika air matanya telah kering, ia bergegas menuju ruangan Ayahnya, Raja Arha dengan tergesa-gesa.

Setelah sampai di depan pintu, ''Ayah..ayah!'' ia memanggil2 ayahnya, utk segera menemuinya. Lalu Raja Arha menemui, ''Ada apa kau ini?'' ''Maukah kau memanggil Takmir, menemuimu, tanyakan apa yang sedang ia galaukan?'' pinta Dewi Vetha, ''Ia tampak begitu sedih, aku tak suka.'' Raja Arha menangguk, segera saja beliau memanggil seluruh prajurit guna mencari Takmir dan menitipkan titah supaya Takmir menemuinya.

Kacap kacarita, di tengah malam yang dingin, Raja Arha, Takmir, dan Dewi Vetha berkumpul di ruangan Raja. Mereka bercakap-cakap. Di sana, ponokawan Takmir menceritakan semua kegalauan hatinya. Akhirnya, Dewi Vetha mengetahui apa yang dirasakan oleh Takmir.

Dan Dewi Vetha di dunia nyata pun telah mengerti lara apa yang merundung Takmir, dan segera menyemangati, karena sukses itu hak setiap insan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekspresi Galau dalam Bahasa Jepang

suatu ketika, saya ngetweet, sekalian menambah ekspresi2 dalam bahasa jepang, lalu ada follower yang mention, "tema hari ini galau ya?" hehehe, jadi saya membuat rangkuman tweet saya yang dikira galau tersebut, 1. aishitemo ii desu ka | bolehkah aku mencintaimu? 2.  anata no egao ga daisuki desu yo | aku sangat suka senyumanmu lo 3. konban, boku no yume ni anata o aitai desu | malam ini, aku ingin bertemu dg mu di dalam mimpiku

Kisah Dua Ekor Burung Merpati

Alkisah, di sebuah hutan terdapat 2 ekor burung merpati yang bersahabat. Burung merpati putih dan burung merpati berwarna cokelat. Mereka berdua adalah sahabat sejati. Keduanya saling menolong dan membantu jika ada salah satu di antara mereka yang membutuhkan. Tidak hanya kepada sahabatnya, mereka terkenal baik hati kepada seluruh penghuni hutan. Baik merpati putih maupun merpati cokelat adalah burung yang ramah dan jujur. Hanya saja merpati putih yang lebih cerdas daripada merpati cokelat. Merpati putih suka mencari tahu tentang segala hal.  Merpati putih selalu bersama merpati cokelat kemana pun mereka pergi, mulai dari mencari makan, belajar dan mengunjungi teman yang lain. Penghuni hutan yang lain sudah mengetahui persahabatan di antara keduanya, bahkan sang raja hutan, yaitu singa yang memberikan istilah sahabat sejati kepada keduanya. Pada suatu hari yang cerah, saat merpati putih dan merpati cokelat terbang bersama, mereka melihat kerumunan binatang di bawah mer...

Puisi Tiga Windu

Siang hari menjauh dari keriuhan, seorang pemuda mengadu kepada sepi. Bertanyalah dia, “Dimanakah rumah?” tiada jawab. Berkelana dalam imajinasi seraya bertanya pada khayalan tiap kali ditemui, “Dimanakah rumah?” tiada terjawab. Bertaruh untuk segudang makanan pokok di pinggir sungai dengan anak-anak berkulit cokelat, dilemparkannya undian itu, sambil bertanya, “Dimanakah rumah?” tiada juga balasan. Anak-anak itu malah tertawa dan berlalu pergi. Sebuah pasar ikan berpindah ke kepala pemuda itu. Bersamaan dengan berbagai jenis ikan yang pernah dan tak pernah kau lihat sebelumnya. Lalu, melalui perantara otak kecil, pemuda itu bertanya kepada para penghuni kepala, “Dimanakah rumah?” Seketika ikan-ikan yang biasanya berenang, malah terbang dengan sayap buatan di punggung mereka, pergi menjauh tanpa babibu. Pemuda itu berjalan berjingkat-jingkat, selayak penari balet yang baru berlatih. Tangan pemuda mengepal seakan ingin meninju barang apa pun yang ada di depannya. Mulutnya t...