Langsung ke konten utama

Puisi Tiga Windu



Siang hari menjauh dari keriuhan, seorang pemuda mengadu kepada sepi. Bertanyalah dia, “Dimanakah rumah?” tiada jawab. Berkelana dalam imajinasi seraya bertanya pada khayalan tiap kali ditemui, “Dimanakah rumah?” tiada terjawab. Bertaruh untuk segudang makanan pokok di pinggir sungai dengan anak-anak berkulit cokelat, dilemparkannya undian itu, sambil bertanya, “Dimanakah rumah?” tiada juga balasan. Anak-anak itu malah tertawa dan berlalu pergi.

Sebuah pasar ikan berpindah ke kepala pemuda itu. Bersamaan dengan berbagai jenis ikan yang pernah dan tak pernah kau lihat sebelumnya. Lalu, melalui perantara otak kecil, pemuda itu bertanya kepada para penghuni kepala, “Dimanakah rumah?” Seketika ikan-ikan yang biasanya berenang, malah terbang dengan sayap buatan di punggung mereka, pergi menjauh tanpa babibu.

Pemuda itu berjalan berjingkat-jingkat, selayak penari balet yang baru berlatih. Tangan pemuda mengepal seakan ingin meninju barang apa pun yang ada di depannya. Mulutnya tak henti-hentinya memekikkan, “Dimanakah rumah?” Orang-orang berlalu lalang abai, cukup malas hanya untuk sekedar menjawab. Sibuk dengan gawai masing-masing yang terantai tak kasat mata di tangan mereka.


Pemuda yang hatinya dipenuhi sarang laba-laba dan kembang api itu sampai di bangunan besar berwarna jingga. Bangunan besar warna jingga itu dikelilingi kupu-kupu sebesar kepala manusia. Pemuda (yang belum diketahui namanya) melawan rasa takut akan gigitan kupu-kupu raksasa, berjalan mendekat. Langkahnya ayal. Entakan kakinya diatur sedemikian rupa hingga burung merpati pun tak bisa mendengar.

Sebuah sastra berbentuk meteor terlihat melintas di atas bangunan besar jingga, menghancurkan segala rencana pemuda yang berusaha untuk berjalan sambil bergeming. Di sekitar meteor, tulisan “Cinta Tanpa Alasan” berputar-putar, warnanya menyilaukan mata hingga menabrak bangunan besar jingga. Meluluh lantakkan sampai tak bersisa. Kupu-kupu raksasa berubah menjadi bayi kelaparan. Menangis meronta-ronta. Hingga air matanya cukup untuk mengairi sawah-sawah tandus di Pulau Jawa.

Puing-puing bangunan yang porak poranda menguap seketika. Pemuda itu menutup hidung sebelum bau anyir yang menguar memenuhi hidungnya. Kini ia sedih karena tak ada lagi tempat untuk menanyakan dimana rumah berada. Minimal untuk kabur dari dentuman pertanyaan di kepalanya.

Tiba-tiba dari reruntuhan bangunan besar jingga muncul asap hijau. Asap itu memumbung ke angkasa, membentuk sesosok gergasi wanita. Pemuda itu takut sejadi-jadinya. Maksud hati ingin berlari, tetapi kakinya seperti sudah menjadi bagian dari bumi, tak mau lepas barang sesenti.

Ilusi gergasi wanita membuat sang pemuda ingin memeluk erat tubuhnya. Manunggal dalam satu tubuh dan hidup mewah. Luluh dalam pembendaharaan ide dan idealisme. Tak perlu saling cumbu jika kau bisa mengerti isi kepala satu sama lain. Itulah keputusan pemuda malang korban pengebirian jati diri.

Lama tak terdengar, anak-anak berkulit cokelat sudah masuk bangku kuliah, berarti sudah hampir tiga windu pemuda itu meninggalkan realita. Dirinya telah hidup dalam sebuah materi yang tak bisa dijelaskan secara ilmiah. Hanya bisa diterangkan dengan pendekatan sastra. Jadi. Seperti ini:

Tiga windu dalam genggaman kebingungan, pemuda memilih untuk tidak mencari jawaban, karena dialah jawaban itu.

Tiga windu dalam pencarian jalan pulang, pemuda itu memilih untuk tertidur, karena dialah tempat tidur ternyaman di semesta.

Tiga windu dalam gerogotan keputusasaan, pemuda itu memilih untuk bersemangat, karena dialah motivasi terbaik.

Sungguh disayangkan gergasi wanita hanya berusia dua puluh empat tahun. Seketika tubuhnya menyusut masuk ke dalam tanah. Meninggalkan sesosok tubuh pria telanjang bulat. Tak merasa malu atas pandangan bumi, langit, dan seisinya kepadanya. Hal yang membuatnya yakin untuk menggenggam erat kesederhanaan adalah ia gabungan dari jawaban dan kepastian.

Kini ia tahu jalan pulang.

Kini ia tahu jalan rumah.

Pemuda itu hanya perlu pergi sejauh yang dia bisa. Berkelana. Berhijrah. Merantau. Atau apalah yang biasa disebut orang-orang. Sebab. Ketika tak lagi di rumah, ia akan selalu berada di rumah. Dimana pun ia boleh merindukan jalan pulang.

Di usianya yang ke dua puluh empat. Dia beranjak dari seorang penjaga serambi menjadi seorang penunggang kuda. Di sanalah ia akan menemukan kedewasaan. Di sanalah ia akan tumbuh dan berkembang.

Selamat berpuisi di rantauan, wahai pemuda penggenggam asa!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia di Balik Nama 'Soi'

ii..So'i takok ii.. ii..So'i takok ii... ii..So'i takok ii.. (RE: ii..So'i tanya ii) Tulisan diatas adalah lagu yang sering dinyanyikan Gentong, saat bertanya tentang pelajaran kepadaku.   SOI. Nama yang terdiri dari 3 huruf ini menjadi saksi perjalanan hidupku. Setiap orang yang bertemu dan mengetahui nama populerku, yaitu soi, mereka bertanya, apa hubungannya Safrizal Ariyandi dengan Soi. Namun, nama Soi atau yang sekarang bisa menjadi Soimin, Somen, atau Sombe, memiliki perjalan panjang dalam penciptaan nama tersebut. Melalui artikel ini, aku akan mengungkapkan rahasia di balik nama yang melegenda tersebut.

Ekspresi Galau dalam Bahasa Jepang

suatu ketika, saya ngetweet, sekalian menambah ekspresi2 dalam bahasa jepang, lalu ada follower yang mention, "tema hari ini galau ya?" hehehe, jadi saya membuat rangkuman tweet saya yang dikira galau tersebut, 1. aishitemo ii desu ka | bolehkah aku mencintaimu? 2.  anata no egao ga daisuki desu yo | aku sangat suka senyumanmu lo 3. konban, boku no yume ni anata o aitai desu | malam ini, aku ingin bertemu dg mu di dalam mimpiku

Fun in SAS

Menyenangkan! Seru! Gokil! itulah kata-kata yang terlontar arek-arek ipa telu, setelah hari ini (11/02) bersama-sama hunting foto dan makan di SAS cafe. Bagaimanakah ceritanya?