Langsung ke konten utama

Postingan

Bunda, Mimpimu Akan Terwujud!

"Allah!", aku terperanjat dari tidur. Terbangun lalu kucoba 'tuk duduk bersila di atas kasur. Nafasku berat dan tersengal seperti ada sebuah balok kayu besar yang ditaruh di atas dadaku. Dapat kurasakan setiap nafas yang terhembus mengeluarkan bunyi yang nyaring. Bunyi yang keluar dari rongga hidungku terlampau keras hingga aku dapat mendengarnya bersautan dengan suara detak jarum jam. Aku mendongak ke arah jam yang bertengger di dinding. Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. "Aku bermimpi buruk," gumamku sembari memegang kepala yang sempat terasa sakit ini. Tanganku basah oleh keringat yang mengalir di dahiku. Aku hampir tidak pernah bermimpi buruk sejak 1 tahun yang lalu. Aku benar-benar merinding dengan apa yang sempat aku lihat dalam mimpi tadi. Aku hanya bisa mengingat sesosok hitam yang mengejarku hingga ke tengah lapang, mengejar terus seakan tak mengijinkanku untuk menjauh, lalu aku menuju sebuah gang yang kukira tak berujung. Di kanan kiri gang tersebu...

Kado Terindah

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Ponokawan Somen mengalami kegundahan yang tidak pernah ia rasakan . Kegundahan ketika akan menyambut hari kelahirannya. Beberapa minggu yang lalu, Somen berkeinginan untuk mendokumentasikan 10 tahun hidupnya, mulai hari dimana usianya menginjak 21 tahun hingga nanti ketika usianya 30 tahun. Namun karena ada banyak urusan yang harus ia tangani, terutama kesibukan-kesibukannya sebagai abdi dalem Kerajaan Madayu, pimpinan Raja Arha. Kesibukan itu benar-benar menguras tenaganya, sehingga walaupun ada waktu senggang, ia terlalu lelah untuk merencanakan keinginannya tersebut. Dan, terang saja Somen menjadi gundah gulana seperti ketika ia memikirkan Dewi Kencana Asri.

antara Somen dan Junet, terdapat Karna

''Setiap orang pasti punya sisi negatif dan sisi positif, hanya tergantung mana yang lebih dominan.'' ujar Somen kepada Junet. ''Sotoy Lu!'' kata Junet menanggapi pernyataan Somen, sambil bibirnya yang memble bergetar. ''Hle, ogak percoyo.'' Somen bersikeras. ''Apa buktinya?'' tanya Junet sambil ngelus-ngelus rambutnya yang jambul. Di waktu maghrib yang agak dingin itu, Somen bertamu di rumah Junet. Dengan sedikit-sedikit ngemil brownis yang disediakan, Somen menceritakan mengenai Adipati Karna, salah satu tangan kanan Duryudana. ''Adipati Karna, lahir dari hubungan yang tidak diinginkan, antara Dewi Kunti alias Prita dengan Batara Surya. Pun, Karna kecil keluar dari telinga Dewi Kunti.'' Junet: wes wes, malah cerito cilikanne, to the point, langsung nang pembahasan seng mau. ''Hlo, aku mau mbahas opo Jun?'' tanya Somen, ''Nggh, mbahas Peterpan, yo gak lah, mbahas sisi negati...

Filosofi Soi

1. Nama 'Somen' dekat dengan kata 'Senyuman' # filosofiSoi 2. 'Soi' dekat dengan kata 'Soy' dalam bahasa inggris yang berarti 'kedelai', yang merupakan bahan baku tahu, tempe, kecap, sumber protein nabati # filosofiSoi 3. SOI : Single Or Inrelationshipaftermarrying ( Jomblo atau Pacaran setelah menikah ) # filosofiSoi

Inilah Cinta yang Sesungguhnya

Malam itu, di Negeri Mulyo, Dewi Vetha mendapati Ponokawan Takmir duduk sendiri, tertunduk lesu di depan pendopo kerajaan. Dewi mendekati Takmir perlahan, ''Ada apakah gerangan yg membuatmu tak seperti biasanya begini?'' sapa Dewi, dalam hatinya ia turut sedih.  Lalu Sang Dewi tersenyum. Pipinya merah merekah dihiasi cahaya rembulan malam. Takmir menoleh dan langsung berdiri, ia lalu mengusap mata. ''Tidak apa-apa, Dewi, tidak apa-apa.'' jawab Takmir, terpatah-patah. ''Kau ada masalah, aku lihat kau begitu sedih, tak seperti biasa.'' Takmir menggelengkan kepala, lalu Dewi Vetha menyingkap selendangnya, dan berkata, ''Jika kau tak mau cerita, jangan lagi menjagaku!''

Pohon Rindang yang Menyejukkan

"Andai setiap daun yang jatuh di musim gugur adalah wujud kasihmu kepadaku, mungkin aku kan menjadi orang yang paling bersyukur di muka bumi, Karena sebanyak itulah, aku mencintaimu.'' Tulisan ini yang dibuat ponokawan Somen pada sebuah pohon depan rumahnya. Pada teriknya panas hari ini, Somen memutuskan untuk berteduh, bersandar di bawah pohon rindang, ia teringat salah satu puisinya. ''Aku menaruh hati pada sebuah pohon yang rindang, yang mengijinkan aku untuk bersandar, atau sekedar berteduh menghilangkan lelah.'' Saat itu, inspirasi Somen untuk menulis puisi adalah Dewi Kencana Asri, ia bagaikan pohon rindang yang menyejukkan, diri maupun hati.

Dilema Cinta Ponokawan Rosed

Ngomongin cinta para ponokawan, Somen sudah, Junet sudah, Takmir sudah, sekarang tinggal cinta ponokawan Rosed yang belum dibahas. Rosed, walaupun dia ponokawan dari Negeri Semo, mukanya tidak kalah dengan para kesatria, semacam Arjuna atau Nakula-Sadewa. Di antara para ponokawan, Rosed lah yang memiliki kulit putih, dengan jenggot, dan sering digandrungi para wanita, dari dewi hingga raksesi. Dari sekian wanita yg mendekat, hanya ada dua wanita yg sanggup meluluhkan hati Rosed hingga sekarang, ''Sopo reek?'' ucap Junet, ''Melok ae'' Rosed sewot. Sikap kalem dan santun Rosed, membuat wanita sekelas Dewi Avas dari Negeri Tamus dan Dewi Rantri dari Negeri Dangan klepek-klepek, jatuh hati. Pernah kedua Dewi tersebut mengungkapkan cinta mereka kepada Rosed, namun karena dia sudah terlanjur menjadi ponokawan apa boleh buat.